Perlukah “yang penting nikah “? #6thingsbeforegettingmarried

things-you-need-to-know-about-pre-wedding-photography-14.jpg

Membangun sebuah keluarga yang harmonis adalah impian semua orang. Saat ini usia Anggi dan Dito sama-sama di angka seperempat abad dan tahun ini juga jika Tuhan mengijinkan mereka akan menjadi satu keluarga. Bayangan ketakutan pun hampir setiap hari datang menghampiri mereka, waktu berjalan seakan begitu cepat hingga akhirnya waktu itu akan tiba juga.

Keluarga bagi Anggi dan Dito bukanlah main-main. Mereka sama-sama tahu bahwa untuk membangun ini semua banyak pengorbanan yang dilewati bersama. Dibarengi dengan restu orangtua Anggi sebagai bentuk amanah untuk Dito.

Bisakah mereka membangun keluarga yang mereka impikan ? seperti apa wujud keluarga mereka dimasa akan yang datang?

Membangun sebuah keluarga memang haruslah memiliki perencanaan yang matang. Tidak hanya karena latah melihat teman seusia  menikah dan akhirnya ikut-ikutan menikah. Tidak juga karena dorongan orangtua  yang meminta kita segera berpasangan karena takut ditenggelamkan usia. Bahkan bagi mereka juga yang sedang  benar-benar pasrah dengan keadaan.

Lalu, apa yang harus kamu dipersiapkan  untuk membangun keluarga?

6359207250253903241249048900_o-FAMILY-VACATION-facebook.jpg

  1. Mental : Berkeluarga adalah memulai hidup baru, persiapan mental diperlukan selama masa penyesuaian dengan pasangan. Dito adalah seorang pendiam yang cenderung egois. Sedangkan Anggi adalah wanita yang  lincah dan banyak maunya. Seringnya terjadi perdebatan dan pertentangan diantara mereka,  bukan berarti hal itu menjadi suatu alasan ketidakcocokan yang berujung perpisahan, perdebatan yang terjadi adalah untuk mendapat persepsi dan visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga. Dito dan Anggi harus bisa mengalahkan hatinya masing-masing untuk bisa memahami satu-sama lain. Menikah bukan hanya tentang ikatan, tapi menyelami watak dan pikiran keduanya.
  2. Rumah/Tempat Tinggal :
    Sebelum menikah Anggi berpesan kepada Dito bahwa setelah menikah Anggi harus tetap tinggal bersama orangtuanya. Anggi  masih merasa bahwa sekalipun sudah menikah penting baginya untuk tetap bisa berdekatan dan mengurusi  orangtuanya. Anggi tidak salah, tidak juga bisa dibenarkan. Sekalipun orangtua tidak pernah memaksa anaknya untuk tinggal bersama dengan mereka. Orangtua tetap ingin melihat anak-anaknya tetap mandiri nantinya. Dito sadar betul pesan orangtua apabila sudah berkeluarga tidak boleh menyusahkan oranglain. Sekalipun orangtua sendiri.  Dito tetap berusaha untuk mencari tempat tinggal sendiri. Sekalipun harus menyewa ataupun menyicil. Tidak masalah. Setidaknya Dito menunjukkan tanggung jawabnya atas keluarganya sendiri. Memang harusnya seperti itu kan ?
  3. Kompromi dengan Pekerjaan  : Sama seperti Anggi, Dito pun tidak memperbolehkan Anggi untuk bekerja di luar rumah setelah menikah. Dengan alasan Dito mampu mencukupi segala kebutuhan keluarga. But in real life, Dito adalah seorang pekerja kantoran biasa. Sepertinya akan sulit memenuhi kebutuhan keluarga, untuk memenuhi kebutuhan Dito sendiri saja dirasa masih pas-pasan. Demi menunjang perekonomian keluarga Dito sebaiknya bisa mengesampingkan rasa egois dan gengsinya sekalipun Dito sebagai sumber finansial utama keluarga dan mengizinkan Anggi untuk bekerja dengan berbagai kesepakatan antara mereka berdua.
  4. Merintis Bisnis Keluraga : Anggi dan Dito sadar benar bahwa mereka tidak terlahir dari golongan menengah ke atas dengan warisan kelurga yang melimpah. Jadi penting rasanya untuk mempunyai bisnis keluarga  sendiri mulai dari sekarang. Bisnis yang mereka rintis dengan kerja keras mereka sendiri. Bisa dilihat 5 tahun atau 10 tahun mendatang apakah bisnis itu bisa menjadi pioner utama dalam keuangan keluarga mereka. Tidak ada salahnya mencoba. Gagal selalu menyertai orang-orang yang mau berusaha. Tapi kesuksesan tidak pernah menghampiri manusia yang hanya berdiam diri saja
  5. Investasi : Tidak peduli berapa besarnya jumlah gaji yang Anggi dan Dito terima nantinya setelah bekerja ataupun keuntungan hasil berbinis  yang peroleh. Investasi mutlak dilakukan. Sisakan  20-25% mungkin dari penghasilan per orang. Selain bisa dalam bentuk tabungan, dana pendidikan, bisa juga dalam bentuk logam mulia, tanah dan lain sebagainya.  Dengan adanya investasi setidaknya mereka merasa aman karena mempunyai ‘simpanan’ tidak terlihat yang  bisa gunakan apabila kebutuhan memang mendesak. Dan kebutuhan buah hati bila sudah besar nanti.
  6. Menyiapkan Perlindungan/Asuransi :Kalau kebutuhan asuransi Dito saat ini di cover oleh perusahan. Bagaimana dengan keluarganya? Sekalipun biasanya perusahaan mungkim telah mengcover seluruh asuransi dalam satu keluarga atau BPJS dan lainnya. Tidak ada salahnya untuk mempunyai asuransi secara pribadi. Bisa juga kita menambahkan asuransi kesehatan, pendidikan atau bentuk lainnya. Hal ini tentu saja sangat membantu apabila terjadi hal yang tidak diinginkan dan kita perlu penanganan yang cepat.

Hal-hal  yang bersifat jangka panjang inilah yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah dan berkeluarga. Menjamin tumbuhnya suatu keluarga bukan hanya sekedar mental yang ‘Siap’ saja dan tidak melulu soal cinta. Tapi material juga menentukan keberlangsungan suatu keluarga. Keenam poin di atas jarang menjadi suatu perhatian khusus bagi calon pasangan. True story Bro !

image_12

Nb: This articel has been submitted in parental education website 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s