How does It Feel Become A Mother (Based of True Story)

DSCN2549.JPG

Gue percaya bahwa takdir dan kodrat adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan dari seorang manusia. Sekeras apapun kita berusaha, sekuat apapun perjuangan, jika Maha Kuasa menghendaki kita untuk ‘iya’ maka takdir benar akan terjadi begitu juga sebaliknya. Kodrat ibarat hal mutlak  dimana manusia memilih untuk menjalani pilihan itu walaupun manusia sendiri tahu bahwa ia akan mengalami hal sulit, mendapatkan hal yang menyakitkan, dan harus berusah payah untuk mendapat suatu kebahagiaan yang hakiki, itu adalah kodrat.

Kamu juga pasti tahu, pengorbanan seperti belalang sembah jantan yang rela dimakan setelah ber’adu’dengan pasangannya atau laba-laba yang rela dimakan demi menghidupi anak-anaknya. Padahal mereka tahu hidupnya akan berakhir hanya dengan mengorbankan dirinya walaupun sebenarnya bisa memilih untuk tidak melakukannya. Semuanya itu karena kodrat.

Menjadi seorang ibu mungkin merupakan title paling berat yang ada di muka bumi ini. Tidak peduli berapa banyak title lain yang menyertai namamu, namun menjadi ‘ibu’ adalah yang terbaik diantara segalanya.

Hari itu (Sabtu, 9/07/2016), gue mengikuti benar ketika seorang manusia berproses menjadi seorang ibu. Walaupun sebagian dari teman-teman mungkin sudah pernah atau menganggap ini hal yang biasa. Tapi bagi gue sendiri ini menjadi  one of my unforgettable moment sepanjang hidup gue. Malam itu gue menemani kakak perempuan gue melakukan persalinan dari awal hingga akhir.

Diawali dengan pekan kedua di bulan Oktober (kalau tidak salah), sebuah message dari Mbak Ika yang mengabari bahwa dia tengah mengandung anak ke tiga. Sorak sorai antara senang dan kuatir kembali bermunculan seiring dengan berkembangnya usia kandungan Mbak Ika dari minggu ke minggu hingga bulan ke bulan. Gue tidak mengetahui banyak apa yang terjadi dengan Mbak Ika. Karena faktor jarak yang menyebabkan gue tidak bisa mengikuti perkembangan kehamilan Mbak Ika.

Kenapa gue niat banget mengikuti kehamilan seseorang ?

Pertama, gue adalah seorang laki-laki. Mungkin terasa tidak penting bagi gue (sebelumnya) untuk tahu gimana rasanya ‘menjadi’ hamil dan rasanya selama hamil. Karena sampai kapanpun gue gak akan pernah tau gimana rasanya hamil. Kedua, suatu hari gue pasti punya istri yang (insyallah) bakal hamil. Ini moment yang pas buat gue untuk banyak belajar, tahu lebih banyak dan mengerti lebih banyak tentang how treat a woman while she’s on pregnant. Ketiga, menebus kesalahan gue sebelumnya kepada Mbak Ika. Karena di kehamilan sebelumnya baik yang pertama dan kedua gue bisa dibilang gak care care banget dengan kehamilannya , sampai dia punya Abiyu yang sekarang udah gede aja. Dan fase sulitnya Mbak Ika yang harus kehilangan anak pertamanya.

Kepulangan gue dari rantau menjelang lebaran tahun ini bertepatan dengan dengan usia cukup bulan kehamilan Mbak Ika. Dan menurut prediksi dokter, bayi lahir di akhir bulan Juni atau gak di awal bulan Juli setelah lebaran. Hari-hari menjelang lebaran, semuanya hectic dengan acara bikin kue dan bebersih rumah. Kita beranggapan dengan banyak kegiatan di rumah, debay (dedek bayi) dalam kandungan bakal lebih aktif dan mau segera keluar. Tapi gak lahir-lahir juga. Sempet was-was H-1 lebaran perut mbak ika udah mulai mules-mules seharian walaupun frekuensinya belum terlalu sering. Was-was karena tepat pas lebaran semua orang pasti sibuk dan tidak adanya dokter kandungan yang stand by di rumah sakit yang bisa handle persalinan. Nah, jadinya serba salah.

Sampai akhirnya hari Sabtu kemarin H+4 Lebaran, di pagi hari Mbak Ika menelpon dari rumahnya mengatakan kalau perutnya semalaman kemarin terasa mulas dengan frekuensi yang lumayan sering. Tapi bukannya istirahat, Mbak Ika malah pergi buat berlebaran ke tetangga-tetangga naik motor (beserta suaminya) di tengah hari yang panas dan terik.

“Biar sekalian aja brojolnya, kayaknya udah waktunya deh” kata Mbak Ika sambil lalu.

Gue gak ngerti memang teorinya begitu atau harusnya sebaliknya, dimana seorang ibu dengan kehamilan yang cukup bulan harus lebih banyak melakukan aktifitas ketimbang tidur-tiduran. Hal ini berbeda ketika usia kehamilan masih cukup muda, si Ibu justru harus lebih banyak beristirahat ketimbang melakukan banyak kegiatan. Bener gak yah ?

Tepat pukul dua siang, mules Mbak Ika udah gak ketahan lagi. Setelah berlebaran sekalian periksa kandungan di rumah Ibu Bidan di dusun tetangga. Mbak ika dan suaminya pulang dengan tergopoh-gopoh sambil memegang perut sambil sesekali merem mata tanda kalau dia merasakan sakit yang ditahan.

“Ibu, ayo ke rumah sakit, barang-barang udah siap tinggal ambil mobil langsung berangkat”  teriak mbak Ika ke Ibu,  waktu itu Ibu cuma pakai dasteran doang.

Segera semua panik dan gerubutan karena waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Segala persiapan pakaian bayi dan alat perangnya udah dipersiapkan jadi tinggal angkut masukin mobil aja. Hal penting bagi para calon ibu udan calon ayah untuk mempersiapkan segala sesuatu dari jauh-jauh hari bahkan untuk hal-hal yang printilan kecil-kecil sekalipun. Jangan sampai karena kurangnya persiapan malah menghambat yang lainnya juga. Yah, well prepared memang benar harus dilakukan sih kalau untuk urusan yang satu ini dan calon ayah juga dituntut buat Siaga (siap antar jaga) setiap saat itu benar banget rasanya. Oh iya, di sini gue memahami bahwa masing-masing anggota keluarga punya peran dan harus “Ngeh” walaupun gak dibilangin. Dan harus cepat tanggap alias responsif dalam menanggapi keadaan gawat darurat.

Akhirnya, gue, Ibu, Mbak Ika dan Mas Anto (suaminya) berangkat ke Rumah Sakit Bersalin di Baturaja yang sayangnya jaraknya hampir dua jam dari rumah di kampung. Suasana lebaran dan traffic mudik bikin perjalanan sore itu terasa sangat lama. Yah seperti biasa, kalau sedang buru-buru ada aja hal-hal kecil yang rasanya bikin kita badmood dan pengen marah-marah sepanjang perjalanan. Dari orang yang bawa kendaraannya kelewat pelan, padahal jalanan kosong melompong. Sampai para pedagang yang jualan ikan di Bendungan Perjaya yang bikin macet panjang. Yang paling dikuatirkan adalah kondisi Mbak Ika yang sedari tadi hanya bisa meringis kesakitan sambil elus-elus perut dan selalu bilang

“Bentar yah dek, bentar lagi sampai di rumah sakit, sabar keluarnya” kata Mbak Ika pelan yang diikuti anggukan kami semua yang berharap hal yang sama

DSCN2521.JPG

Pukul lima sore akhirnya kami sampai di rumah sakit bersalin Ammana, hmm mungkin kalau di kota besar sejenis klinik namun orang Baturaja lebih mengenalnya sebagai rumah sakit. Berlokasi tidak terlalu jauh dari lapangan besar Ahmad Yani di pusat kota Baturaja, Rumah Sakit Bersalin Ammana cukup bersih, rapih dan teratur walaupun tidak terlalu besar. Segera setelah sampai Mbak Ika langsung dibawa ke ruang persalinan untuk diperiksa kondisi kehamilannya dan kami menunggu di luar.

DSCN2525.JPG

Sedikit panik dan cemas waktu itu, karena kondisi Mbak Ika terlihat sangat kurang sehat (atau mungkin oang mau melahirkan memang begitu). Namun kata dokter Mbak Ika masih masuk kategori ‘bukaan empat” yang artinya masih menunggu agak lama untuk proses persalinan. Akhirnya Mbak Ika dipindahkan terlebih dahulu di ruangan sebelum nanti dikembalikan ke ruang persalinan ketika waktunya tiba.

Menit demi menit berlalu lebih dramatic dibanding sebelumnya ketika perjalanan. Di kamar pasien awalnya Mbak Ika baik-baik saja dan masih bisa tersenyum sambil sempat makan sate karena dia bilang dia merasa lapar. Namun setelah dari itu senyum dan beberapa jam setelahnya senyum Mbak Ika udah lenyap berganti erangan sakit yang tidak tertahankan. Di moment inilah rasanya perjuangan seorang Ibu nampak nyata di depan muka gue sendiri. Kata Ibu sakit melahirkan itu adalah sakit yang tidak terdefinisikan. Berbeda dengan rasa sakit perut atau sakit karena masa haid. Sakit dengan rasa sendiri. Namun, setiap menjelang persalinan itu adalah hal yang wajar. Wajar untuk mengalami kontraksi yang awalnya hanya sesekali dalam beberapa menit namun sekarang frekuensinya jauh lebih cepat tiap menitnya. Mbak Ika menyuruhku untuk men-timer berapa menit sekali dia merasakan kontraksi hebat. Karena itu tandanya “bukaan’ yang dia alami semakin besar dan proses persalinan semakin dekat.

Rasa kasian dan sedikit melow lihat Mbak Ika hanya bisa menangis dan sesekali beristigfar dan kami hanya bisa melihat dia merasakan sakit itu sendirian. Mbak Ika minta agak Ibu tidak meninggalkan dia, sambil sesekali Ibu memenangkan

DSCN2523.JPG

“ wes rapopo, melahirkan itu memang begini, sakit pasti tapi insyallah lancar”.

Ibu bercerita bagaimana dulu beliau mengandung Mbak Ika pertama kali, rasa sakitnya mengalahkan segalanya. Dan betapa paniknya beliau karena itu adalah anak pertamanya. Ibu juga bercerita bagaimana waktu mengandung Mas Aris dan gue yang ketiga-tiganya memiliki “feel” yang berbeda. Di sini sangat terlihat bahwa kenapa memang seharusnya kita harus berbakti dengan ibu, menyayangi ibu, dan mencintai ibu melebihi rasa cinta kita pada diri kita sendiri. Jika surga itu di bawah telapak kaki ibu, sepertinya gue gak meragukan pepatah itu lagi. Sebagaimana pun kondisi ibu, setidakbaik apapun seorang ibu, ibu adalah orang yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan titipan-Nya. Gue baru benar-benar memaknai istilah itu sekarang.

Pukul sepuluh malam kontraks mbak Ika sudah tidak tertahan lagi, Bapak dan Abiyu sangking penasarannya ikut ke Rumah Sakit untuk melihat calon debay yang udah di ujung tapi gak keluar-keluar. Gak kebayangkan gimana itu rasa sakitnya. Bayi yang mau keluar tapi gak keluar-keluar tapi udah tidak bisa masuk kedalam. Sembari mendengar lantunan surat Yasin Mbak Ika menahan sakit sambil mencengkram kuat bantal dan menggigiti handuk kecil, tubuhnya penuh dengan peluh keringat. Beberapa menit kemudian, dokter dan beberapa suster masuk ke kamar dengan membawa peralatan dan seketika itu juga Mbak Ika segera di pindah ruangkan ke ruang bersalin. Kita yang melihatnya hanya bisa was-was. Gue yang baru pertama kali melihat moment semacam ini rasanya mirip dengan yang terjadi di sinetron-sinteron tv dimana ketika Mbak Ika masuk, kita semua panik menunggu di luar. Mbak Ika masuk di dalam ruang bersalin justru di temani Bapak bukan Ibu maupun suaminya, Mas Anto.

Sambil menunggu, kami istirahat sejenak walaupun  muka panik tidak bisa lepas dari raut muka kami, belum lima belasan menit menunggu terdengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin. Dan Bapak keluar dengan ekspresi sumringah

“ Alhamdullilah, lahir normal sehat, putuku lanang (cucuku laki-laki)” kata Bapak

Sontak kami semua berhamburn dan berlari masuk ke ruang bersalin dan mendapati debay yang selesai dimandikan sedang tertidur manis di ranjang kecil.  Mbak Ika terbaring di seberangnya dalam kondisi lemah namun alhamdullilah sehat walafiat. Walaupun masih sedikit merasa kesakitan. Ibu menghampiri Mbak Ika dan membawakan beberapa obat dan memastikan kondisinya baik-baik saja. Gue dan Abiyu langsung menghampiri debay yang gue sendiri ngerasa amaze dengan apa yang ada di depan gue. Ternyata ini toh yang gerak-gerak selama ini di perut. Lucu yaaah, gemes rasanya, apalagi kulitnya terasa sangat lembut, rambutnya lebat, senyumnya manis, kelopak matanya  hitam dan belum terbuka sempurna.

DSCN2539

DSCN2540

Terlahir dengan berat 3,2 kg dengan panjang 52 cm, kami mengira ngira si debay mirip dengan siapakah perawakannya. Dari bentuk hidung dan bibirnya jelas cetakan Ibunya, namun dari ekpresinya sepertinya mewarisi Bapaknya dan Kakaknya. Alhamdullilah syukur tak berujung kami ucapkan setelah Bapak selesai mengadzani debay. Gestur muka dan badannya menandakan dia ikut menyimak lantunan Adzan yang bapak kumandangkan. Sedikit haru kala itu, membayangkan dulu kita semua pernah menjadi sekecil itu, serapuh itu, setidak berdayanya itu, dan sekarang kita sudah berdiri tegak, dewasa, dan mampu melakukan apapun. Semuanya itu karena orangtua.

Pukul 12 malam, Mbak Ika sudah dikembalikan lagi ke kamar perawatan. Bukan dalam keadaan perut membuncit lagi, namun sekarang ditambah dengan ranjang troli dengan debay di dalamnya. Tidak bisa ditutupi rasa lega yang terpancar dari wajah Mbak Ika. Walaupun masih merasakan kontraksi sisa persalinan karena penyesuaian dinding rahim, Mbak Ika sudah bisa tersenyum bahkan update status untuk memberitakan kabar bahagianya. Sayangnya tidak berlangsung lama, karena Mbak Ika langsung terbaring lagi tidak kuat menahan kontraksi sisa persalinan yang (katanya) lebih terasa sakit ketimbang sebelumnya. Namun sekali itu adalah proses yang wajar. Di saat seperti ini adalah waktunya peran sang suami untuk mendampingi, menyemangati, dan memberikan ketenangan bagi sang istri. Yah kira-kira begitulah yang bisa sedikit gue pelajari.

Malam itu, kami tidur ala kadarnya dalam satu ruangan. Abiyu dan ayahnya tertidur di lantai, ibu yang tidur ayam karena sesekali harus bangun untuk memberikan susu. Oh iya, sebagai catatan, susu formula dapat langsung diberikan kepada debay yang baru lahir untuk mengganti ASI ibu sementara mengingat kondisi ibu yang masih belum terlalu kuat pasca melahirkan. Gue yang tidak tidur sama sekali karena menjaga Mbak Ika yang sebentar sebentar merasa kesakitan dan minta untuk ditemani. Minimal menemani mengobrol, mengambilkan minum, atau sekedar memijat kakinya yang mati rasa karena kram. Alhamdullilah kondisinya semakin membaik ketika pagi menjelang dan semakin sehat baik debay maupun ibunya ketika siang. Sehingga sore itu (Minggu, 10/7/2016) debay dan ibunya sudah diperbolehkan pulang.

DSCN2560

DSCN2562

Mungkin cerita gue tidak cukup mewakili kondisi sebenarnya ketika berada di tempat, namun apa yang gue alami dan rasakan pertama kali ini menjadi pengalaman berharga. Mungkin tidak sekarang, namun bisa menjadi panduan gui ketika gue memulai kehidupan dengan keluarga baru gue nanti. Beberapa moment menyadarkan gue bahwa dukungan orang dekat dan keluarga adalah kekuatan besar bagi calon Ibu udalam melewati masa-masa genting nan kritis semacam ini. Tidak bisa kami pungkiri, bahwa kekuatiran terburuk selalu membayangi kami semua, terlebih sedikit perasaan trauma di masa lalu yang tidak mungkin dielakkan. Namun semua itu bisa dilewati dengan peran serta seluruh anggota keluarga dan diganti dengan rasa haru dan bahagia menyambut anggota keluarga baru kita semua.

DSCN2547

Semoga pengalaman ini dapat memberi manfaat buat kamu yang membacanya.

Dan selamat untuk Mbak Ika dan Mas Anto

DSCN2555.JPG

Selamat atas kelahiran Adik Afzar yang ganteng. Semoga tumbuh menjadi tauladan, anak sholeh, berbakti, sekaligus kebanggaan orangtua dan keluarga.

Salam sayang

Uncle Cai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s